Badjoeri Garden Resto Homestay, Jadi Saksi Pertemuan Para "Pendekar Pariwisata" Jabar

KLIKNUSAE.com - Di sebuah siang yang teduh di kawasan Lembang, tepatnya di Badjoeri Garden Resto Homestay, suasana hangat terasa berbeda dari biasanya.

Bukan sekadar makan siang akhir pekan, melainkan sebuah temu kembali yang sarat makna. "Silaturahim-Tepang Sono" para mantan pengurus Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Provinsi Jawa Barat periode 2011.

 

 

 

 

 

 

Deretan nama yang pernah menjadi motor promosi pariwisata Jawa Barat hadir satu per satu.

Wajah-wajah yang tak asing dalam dunia pariwisata itu tampak akrab bercengkerama. Seolah waktu tak pernah benar-benar memisahkan mereka.

Ada Dwi Hendratno, Herman Rukmanadi, Maktal Hadiat, Ina Herlina Koswara, Popy Rufaidah, hingga Uyun Acdiat.

Hadir pula Herie Hermanie dan Dery Septiadi, Deden Herdiawan dari PHRI Jawa Barat dan Budi Ardiansjah, Sekretaris Jenderal DPP ASITA.

Di tengah kehangatan itu, Hilwan Saleh—Direktur Eksekutif BPPD Jawa Barat pada masanya—bertindak sebagai tuan rumah.

Ia mempersilakan para tamu menikmati hidangan yang tersaji: perpaduan khas Sunda dan Palembang.

Aroma pindang ikan yang menggoda menjadi pelengkap percakapan panjang yang mengalir santai namun penuh kenangan.

“Hari ini adalah pertemuan lengkap, di mana para pengurus BPPD Jawa Barat bisa berkumpul. Selama ini secara personal kita sering berjumpa, ya, di acara-acara pariwisata,” ujar Hilwan, sembari sesekali menyapa tamu yang datang.

Namun, pertemuan ini bukan sekadar nostalgia. Ada semacam panggilan untuk menengok kembali peran besar yang pernah mereka emban.

Di masa itu, BPPD menjadi salah satu “mesin penggerak” yang membawa Jawa Barat masuk dalam peta pariwisata dunia.

Sementara itu Ketua BPPD Jawa Barat 2011, Cecep Rukmana, melihat pertemuan ini sebagai momentum penting.

“Silaturahmi seperti ini bukan hanya mempererat hubungan, tapi juga membuka ruang untuk memunculkan kembali ide-ide pengembangan pariwisata,” katanya.

Perubahan Zaman

Ia lalu melempar pertanyaan yang terasa relevan: apakah BPPD masih dibutuhkan hari ini?

Menurut Cecep, perubahan zaman memang tak terelakkan. Teknologi digital telah mengubah cara orang bepergian.

Semua bisa dilakukan secara mandiri, dari memesan tiket hingga menyusun itinerary.

Namun, ia tetap percaya pada kekuatan pertemuan langsung.

“Pertemuan tatap muka dengan calon wisatawan itu masih sangat efektif. Mereka bisa lebih memahami, merasakan, dan akhirnya tertarik datang,” ujarnya.

Percakapan pun mengalir ke masa lalu. Ke masa ketika promosi inbound menjadi tulang punggung kunjungan wisatawan mancanegara.

 

Nama-nama seperti Herman Rukmanadi dan Maktal Hadiat disebut sebagai saksi hidup bagaimana BPPD memberi dampak nyata bagi sektor pariwisata Jawa Barat.

Di sela obrolan ringan dan tawa yang sesekali pecah, terselip kesadaran bahwa apa yang mereka bangun dulu bukanlah hal kecil.

BPPD, yang dikukuhkan pada 5 Oktober 2011 oleh Sekretaris Daerah Jawa Barat saat itu, Lex Laksamana, di Grand Royal Hotel Panghegar, merupakan wadah strategis lintas sektor. Menggabungkan pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan.

Dengan sembilan anggota, lembaga ini mengemban tugas besar yakni meningkatkan citra pariwisata Jawa Barat.

Termasuk, mendatangkan wisatawan nusantara dan mancanegara, hingga menggerakkan riset dan pendanaan sektor pariwisata.

Hari itu, di tengah hijaunya taman dan hangatnya hidangan, semangat lama seakan kembali berdenyut.

Bukan untuk mengulang masa lalu, tetapi untuk mengingat bahwa fondasi yang kuat pernah dibangun.'

Dan mungkin, suatu saat, bisa kembali dihidupkan dengan cara yang lebih relevan dengan zaman. ***

Share this Post:

Berita Terkait

Berita Lainnya

E-Magazine Nusae