KLIKNUSAE.com – Rombongan Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) Jawa Barat melakukan kunjungan kerja ke Kota Banjar, Selasa, 12 Mei 2026.
Kunjungan itu dipimpin langsung Ketua PHRI Jawa Barat, Dodi Ahmad Sofiandi, dalam upaya memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan pelaku usaha pariwisata.
Pertemuan berlangsung di Pendopo Wali Kota Banjar dan diterima langsung Wali Kota Banjar, Sudarsono.
Pertemuan tersebut juga sekaligus bagian dari rangkaian kegiatan pengukuhan kepengurusan Badan Pimpinan Cabang (BPC) PHRI Kota Banjar 2026-2031.
Dimana dalam musyawarah cabang (Muscab) secara aklamasi Metty Susilawaty terpilih sebagai Ketua BPC Kota Banjar.
Dodi berharap dengan telah terbentuknya kepengurusan BPC PHRI tersebut bisa mendorong pengembangan sektor pariwisata daerah.
“Disamping itu, juga merupakan langkah penguatan organisasi, dimana kami ingin menyampaikan kepada Pak Wali Kota telah terbentuk BPC PHRI Banjar,” kata Dodi kepada kliknusae.com usai pertemuan.

Pelaku Usaha
Menurut Dodi, keberadaan organisasi PHRI di tingkat daerah diharapkan mampu menjadi jembatan antara pemerintah dan pelaku usaha.
Khususnya, dalam upaya membangun ekosistem pariwisata yang lebih kuat.
Ia menilai kawasan ini memiliki posisi strategis sebagai daerah lintasan menuju kawasan wisata selatan Jawa Barat, termasuk Pangandaran.
Sementara itu, Wali Kota Banjar Sudarsono berharap kehadiran BPC PHRI nantinya dapat membantu pemerintah daerah dalam menarik wisatawan untuk singgah lebih lama di kotanya.

Salah satu yang dianggap penting ialah pengembangan pusat-pusat kuliner dan fasilitas pendukung wisata.
“Kalau ada investor yang akan membangun hotel bintang 4 dan 5, pasti tidak akan saya izinkan. Karena pendukungnya itu belum ada,” ujar Sudarsono.
Ia menggambarkan kondisi Kota Banjar yang dinilai belum sepenuhnya siap menopang kehadiran hotel berbintang besar.
Menurut dia, wisatawan yang menginap masih kesulitan menemukan pusat kuliner atau tempat makan yang buka hingga malam hari.
“Terbayang ketika ada banyak tamu datang menginap, kemudian jam 9 malam ingin cari makanan tidak ada apa-apa atau katakan sudah tutup, ini kan menjadi sangat ironi,” katanya.

Restoran Cepat Saji
Sudarsono kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan kota-kota besar yang telah memiliki jaringan kuliner.
Termasuk, layanan pendukung pariwisata lebih lengkap seperti restoran cepat saji dan kedai kopi modern.
Karena itu, Pemerintah Kota Banjar kini berupaya menghadirkan titik-titik daya tarik baru.
Hal ini agar wisatawan yang melintas menuju Pangandaran tertarik berhenti sejenak di kota tersebut.
Pemerintah, kata dia, juga terus membuka ruang investasi dengan memberikan berbagai kemudahan.
Termasuk penurunan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) hingga hampir 45 persen.

“Dan, kami sudah terus-terusan berupaya bagaimana supaya ada investasi masuk ke sini,” ujarnya.
Ke depan, Sudarsono berharap BPC PHRI Banjar dapat membantu meningkatkan kesadaran pelaku usaha hotel dan rumah makan.
Utamanya, terhadap sistem perpajakan daerah yang lebih tertata dan modern. Seperti penerapan pajak restoran dan hotel sebesar 10 persen secara otomatis sebagaimana diterapkan di kota-kota besar.
Menanggapi harapan tersebut, Dodi Ahmad Sofiandi menyatakan apresiasinya terhadap langkah Pemerintah Kota Banjar.
Terutama, dalam membuka peluang investasi dan membangun sektor pariwisata.
Ia menegaskan PHRI Jawa Barat akan berupaya mendorong pertumbuhan pariwisata Banjar agar berkembang lebih cepat dan kompetitif. ***