Jalan Tuparev hingga Alun-alun Karawang Masuk Agenda Penataan KDM

2 min read
Jalan Tuparev hingga Alun-alun Karawang Masuk Agenda Penataan KDM
Selain menghadirkan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Kabupaten Karawang juga di isi ragam budaya lainnya seperti “syukuran panen raya”. (Foto: Dok.Adpim Jabar)

KLIKNUSAE.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali membawa agenda penataan kota dalam rangkaian Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda.

Kali ini, sasaran pembenahan diarahkan ke kawasan Jalan Tuparev hingga Alun-alun di Kabupaten Karawang.

Di tengah ribuan warga yang memadati jalur kirab pada Sabtu malam, 9 Mei 2026, Dedi—yang akrab disapa KDM—mengatakan kegiatan budaya itu tidak berhenti sebagai perayaan seni dan nostalgia sejarah Kerajaan Pajajaran.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kata dia, menyiapkan langkah lanjutan berupa penataan infrastruktur dan ruang publik di sepanjang jalur kirab budaya.

Kirab bertajuk “Subang Larang Nebar Kaheman” itu bergerak dari Jalan Ir. H. Juanda menuju Alun-alun Karawang.

Arak-arakan diikuti peserta seni tradisi dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat, serta perwakilan dari Jakarta, Banten, dan Jawa Tengah.

“Bersama Pak Bupati kita akan melakukan perbaikan infrastruktur, termasuk jalan, trotoar, dan taman di sepanjang rute kirab,” ujar Dedi di sela acara.

Ia juga menyebutkan pemerintah akan memasang batu tulis berisi pesan-pesan cinta di sepanjang kawasan tersebut.

Sementara itu Alun-alun Karawang direncanakan menjadi kawasan Kota Tua Karawang.

Masuk Anggaran APBD

Program penataan itu disebut akan mulai dianggarkan melalui APBD Perubahan 2026 atau APBD 2027.

Bagi Dedi, penataan kawasan itu bukan hanya soal estetika kota. Ia ingin Karawang memiliki identitas budaya yang kuat.

Sekaligus menjadi tujuan wisata berbasis narasi sejarah dan romantisme masa lalu Sunda.

“Karawang harus menjadi kota yang nyaman, bersih, dan punya cerita,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Karawang Aep Syaepuloh menyampaikan apresiasinya atas kehadiran Mahkota Binokasih Sanghyang Pake dalam kirab budaya tersebut.

Sedangkan mahkota yang sebelumnya disimpan di Kerajaan Sumedang Larang itu dinilai memiliki makna simbolik. Yakni,  tentang hubungan pemimpin dan rakyat.

“Pembangunan tidak hanya bertumpu pada kemajuan fisik dan ekonomi, tetapi juga harus dibangun atas dasar kasih sayang, kebersamaan, dan persatuan,” ujar Aep.

Begitu pun sepanjang jalur kirab, warga tampak memenuhi sisi jalan untuk menyaksikan iring-iringan seni tradisional yang berlangsung hingga malam hari.

Atmosfer perayaan budaya bercampur dengan harapan baru tentang wajah Karawang yang hendak dibentuk pemerintah provinsi. ***

Bagikan Artikel

Bantu sebarkan informasi bermanfaat ini.

Baca Juga Lainnya

`