KLIKNUSAE.com – Kirab Budaya Mahkota Binokasih Napaktilas Padjadjaran di Kota Cirebon, Minggu lalu, bukan sekadar arak-arakan pusaka kerajaan dan Putri Keraton.
Jalanan kota berubah menjadi panggung terbuka yang memamerkan wajah budaya Jawa Barat. Meriah, teatrikal, sekaligus sarat simbol sejarah.
Dari Taman Pedati Gede menuju Alun-alun Keraton Kasepuhan, ribuan warga berjejal menyaksikan iring-iringan Mahkota Binokasih.
Di sepanjang rute kirab, perhatian publik tersedot pada penampilan para penari Bedaya dari Keraton Kasepuhan.
Sementara itu putri-putri keraton dengan busana tradisional serba gemerlap bergerak perlahan mengikuti irama gamelan. Menghadirkan suasana khidmat di tengah riuh penonton.
Namun kirab tak melulu menghadirkan nuansa aristokratik. Dari Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, hadir kelompok Binaraga Jebor.
Sebuah kesenian khas para buruh pabrik genteng tradisional.
Tubuh-tubuh kekar para pekerja itu tampil layaknya atlet binaraga profesional. Bedanya, mereka tidak mengangkat barbel logam, melainkan tumpukan genteng yang disusun di pundak dan tangan.
Atraksi itu selama ini identik dengan perayaan Hari Kemerdekaan setiap Agustus di kawasan sentra industri genteng Jatiwangi.
Di panggung utama Alun-alun Keraton Kasepuhan, berbagai kesenian tradisional dipentaskan silih berganti.
Sorak penonton pecah setiap kali rombongan kirab melintas sambil membawa simbol-simbol kerajaan Sunda masa lampau.
Bukan sekadar romantisme sejarah
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut kirab budaya bukan sekadar romantisme sejarah.
Menurut dia, kegiatan itu menjadi upaya menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
“Banyak orang berbicara masa depan, tetapi tidak mengerti sejarah masa lalu. Ada juga yang hanya bercerita masa lalu tanpa mau bicara masa depan,” ujar Dedi di sela acara.
Ia mengatakan masa lalu adalah fondasi histori, filosofi, dan ideologi, sedangkan masa depan merupakan tantangan yang harus diwujudkan.
“Tak ada negara besar yang tidak terikat terhadap masa lalunya,” kata dia.
Kirab Mahkota Binokasih juga, menurut Dedi, menjadi penegasan bahwa jejak Kerajaan Padjadjaran bukan sekadar legenda.
Ia menyinggung keberadaan Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih sebagai bukti sejarah yang masih terjaga hingga kini.
Sementara dari Cirebon, rangkaian kirab budaya akan berlanjut ke Kota Bandung. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan agenda lanjutan. Yakni, berupa pertunjukan drama kolosal di Gedung Sate pada 16 Mei mendatang.
Kirab bertema “Mahkota Bertahta Cinta” itu terasa semakin semarak karena turut menghadirkan kelompok seni budaya dari Jakarta, Kota Tegal, dan Kabupaten Brebes.
Wilayah perbatasan yang selama ini memiliki kedekatan historis dan budaya dengan tanah Pasundan. ***