Menteri Bahlil Sebut Popularitas Gubernur KDM "Ngeri-ngeri Sedap"
KLIKNUSAE.com - Di bawah langit Jakarta yang siang itu terik, suasana di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terasa lebih cair dari biasanya.
Pada Jumat, 10 April 2026, pertemuan antara Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tak dibuka dengan protokol kaku. Melainkan dengan kebersamaan yang sederhana, yakni salat Jumat.
Seusai ibadah, langkah keduanya beriringan memasuki ruang kerja menteri.
Dedi Mulyadi—akrab disapa KDM—tampil serba putih dengan kopiah hitam, memberi kesan bersahaja yang kontras dengan hiruk-pikuk ibu kota.
Di tengah suasana yang santai itu, Bahlil melempar gurauan yang langsung mencairkan ruangan.
“Bahaya ini, dia (KDM) popularitasnya ngeri-ngeri sedap,” ujar Bahlil, setengah berkelakar.
Tawa pun pecah. Para tamu yang hadir, termasuk Idrus Marham, Wakil Ketua Umum Partai Golkar, ikut larut dalam suasana.
Di balik candaan itu, Idrus melihat benang merah yang menghubungkan dua tokoh tersebut.
BACA JUGA: Membaca “Pikiran” KDM Dalam Mengembangkan Sektor Pariwisata Jabar
“Mereka berdua ini memiliki perjalanan yang sama. Sama-sama malang melintang sehingga sampai pada posisi sekarang,” katanya, menegaskan bahwa keduanya ditempa oleh proses panjang sebelum mencapai puncak kekuasaan.
Namun, seperti banyak pertemuan penting lainnya di Jakarta, isi pembicaraan justru disimpan rapat.
Ketika awak media mencoba menggali agenda di balik pertemuan itu, Bahlil hanya tersenyum, seolah memberi isyarat bahwa tidak semua hal perlu diungkap saat itu juga.
“Silakan Pak KDM ya,” ucapnya Menteri Bahlil singkat, sembari mempersilakan tamunya melangkah lebih dulu ke dalam ruang kerja.
KDM pun membalas dengan senyum yang tak kalah misterius.
Di balik senyum-senyum itu, spekulasi mengendap. Apakah ini sekadar silaturahmi politik, atau ada agenda strategis menyangkut energi dan pembangunan Jawa Barat?
Yang jelas, pertemuan siang itu memperlihatkan satu hal. Dimanapolitik, pada akhirnya, tak selalu tegang.
Kadang ia hadir dalam bentuk tawa, candaan, dan isyarat-isyarat yang dibiarkan menggantung di udara. ***
