KLIKNUSAE.com – Pengusaha nasional Henry Husada mendukung langkah Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor melahirkan SDM adaptif.
Utamanya, dalam memperkuat transformasi ekosistem ketenagakerjaan nasional melalui empat pilar strategis prioritas tahun 2026.
Menurut Henry, kebijakan tersebut menjadi langkah penting untuk menjawab kesenjangan kompetensi tenaga kerja.
Khususnya, di tengah perubahan dunia kerja yang dipicu perkembangan teknologi dan digitalisasi.
“Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan global. Oleh sebab itu, tidak hanya tenaga kerja terampil saja yang dibutuhkan, tetapi juga bagaimana membangun fondasi sumber daya manusia masa depan yang adaptif, inovatif, dan mampu bersaing di tengah perubahan global,” kata Henry dalam keterangannya, Senin, 11 Mei 2026.
Henry menilai transformasi digital telah mengubah wajah ketenagakerjaan secara fundamental.
Pergeseran pekerjaan konvensional, menurut dia, harus dibaca sebagai peluang untuk melahirkan jenis pekerjaan baru berbasis kreativitas dan teknologi.
“Digitalisasi sekarang telah mengubah wajah ketenagakerjaan secara fundamental. Meski pekerjaan konvensional bergeser, peluang baru berbasis kreativitas dan teknologi terbuka lebar,” ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia membutuhkan talenta yang tidak hanya bergantung pada lapangan kerja yang tersedia.
Namun juga mampu menciptakan inovasi dan nilai ekonomi baru.
“Kita membutuhkan talenta yang tidak hanya menunggu lowongan pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan nilai dan inovasi baru,” kata Henry.
Sebelumnya, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor memaparkan empat pilar strategis prioritas Kementerian Ketenagakerjaan tahun 2026.
Paparan tersebut ia sampaikan saat memberikan sambutan dalam kegiatan Examination Authority (EXOT) 2026 SMP-SMA Al-Wildan Islamic School Jakarta, Minggu, 10 Mei 2026.
Pusat Pelatihan Vokasi

Pilar pertama adalah penguatan Pusat Pelatihan Vokasi yang difokuskan pada program skilling dan reskilling.
Hal ini guna menjawab kesenjangan kompetensi sekaligus menyiapkan sumber daya manusia sesuai kebutuhan industri masa depan.
Pilar kedua ialah pengembangan Talent & Innovation Hub (TIH) yang diproyeksikan menjadi inkubator strategis nasional.’
Tujuannya, untuk mentransformasikan ide kreatif menjadi produk komersial dan melahirkan inovator baru.
Adapun pilar ketiga berupa pelatihan dan penempatan tenaga kerja disabilitas. Ini juga mendorong upaya membentuk komitmen membangun ekosistem ketenagakerjaan yang inklusif dan setara bagi seluruh warga negara.
Sementara itu pilar keempat adalah pembentukan Labor Productivity Clinics untuk meningkatkan produktivitas.
Termasuk, daya saing perusahaan nasional di tingkat global.
Afriansyah mengatakan keempat pilar tersebut akan diintegrasikan menjadi ekosistem ketenagakerjaan.
Dimana didorong untuk lebih adaptif, inklusif, dan produktif guna memperkuat daya saing nasional.
Ia meyakini kesiapan sumber daya manusia, terutama di sektor ekonomi kreatif, akan menjadi fondasi penting menuju kemandirian ekonomi nasional.
“Indonesia Emas 2045 hanya dapat terwujud apabila ekonomi kreatif menjadi pilar pembangunan. Kemandirian ekonomi inilah yang akan membawa Indonesia menjadi bangsa maju dan berdaya saing global,” ujar Afriansyah. ***