Geopolitik Memukul Sektor Pariwisata, Devisa Berpotensi Susut Rp2 Triliun
KLIKNUSAE.com - Riak konflik di Timur Tengah antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat menjalar hingga memukul sektor pariwisata Indonesia.
Penutupan ruang udara Iran serta terganggunya jalur penerbangan dari sejumlah hub internasional, seperti Abu Dhabi, Doha, Jeddah, Madinah, dan Muscat memicu gelombang pembatalan penerbangan ke Tanah Air.
Dalam rentang 28 Februari hingga 28 Maret 2026, Kementerian Pariwisata mencatat sekitar 770 penerbangan menuju Jakarta, Bali, dan Medan batal beroperasi.
Imbasnya tak kecil, potensi devisa menguap hingga Rp2,04 triliun, setara dengan hilangnya sekitar 60 ribu kunjungan wisatawan mancanegara.
Tekanan tak berhenti di langit. Lonjakan harga energi global ikut memperberat beban.
Harga minyak mentah dunia melesat lebih dari 52 persen dalam sebulan. Dari 67 dolar AS menjadi 102 dolar AS per barel.
Kenaikan ini merembet ke biaya transportasi, melalui fuel surcharge maskapai hingga tarif moda lintas negara yang kian mahal.
Sementara itu Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengakui dinamika geopolitik global memberi tekanan nyata.
“Namun, kami terus melakukan mitigasi agar target kinerja nasional tetap tercapai,” ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta, baru-baru ini.
Pemerintah pun memutar haluan strategi. Pasar wisata digeser ke kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, dan segmen medium-haul.
Kampanye digital internasional diperkuat, sementara kerja sama dengan maskapai yang memiliki rute langsung ke Eropa dan Amerika terus dijajaki.
Target ambisius tetap dipatok yakni 16 hingga 17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada 2026.
Event lintas batas
Untuk menjaganya, pemerintah juga mendorong penyelenggaraan event lintas batas di kawasan perbatasan.
Serta menggenjot promosi wisata nusantara demi menjaga tingkat hunian destinasi domestik.
Di tengah tekanan global, Kementerian Pariwisata meminta sokongan lintas kementerian dan lembaga.
Insentif penerbangan, kebijakan bebas visa, penambahan kapasitas kursi. Hingga penguatan anggaran promosi menjadi sejumlah langkah yang didorong agar Indonesia tetap kompetitif.
Sedangkan Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Daulay, menekankan pentingnya penguatan konektivitas dan pergerakan wisatawan nusantara.
Sementara anggota Komisi VII dari Fraksi PDIP, Putra Nababan, mengingatkan adanya pergeseran perilaku wisatawan akibat perubahan strategi pasar.
Ia mendorong pemerintah segera mengkaji pemberian bebas visa, terutama bagi wisatawan dari Tiongkok dan Australia.
“Jangan ada ego sektoral. Pemerintah perlu bergerak cepat,” ujarnya.
Sebelumnya, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyebut dampak gangguan penerbangan terhadap operasional Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali relatif terbatas.
Penurunan penerbangan tercatat hanya sekitar 0,5 persen.
Menurut dia, sebagian wisatawan mengalihkan rute melalui hub alternatif di Asia. Seperti Malaysia dan Singapura. Dua simpul utama konektivitas menuju Indonesia.
Data menunjukkan, 28 persen konektivitas penerbangan berasal dari Malaysia. Disusul Singapura 18 persen, Timur Tengah 11 persen, serta Hong Kong dan kawasan lain.
Hingga awal Maret 2026, setidaknya 1.631 penumpang terdampak pembatalan penerbangan akibat penutupan ruang udara di kawasan konflik.
Di tengah ketidakpastian global, sektor pariwisata Indonesia kembali diuji daya tahannya. ***

ujar Menteri Pariwisata Widiyanti dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR RI terkait tindak lanjut rencana kerja Kementerian Pariwisata tahun 2026 di Jakarta, pekan lalu.(Foto: Dok.Kemenpar)