Konsumsi Rumah Tangga Menjadi Penopang Ekonomi Jawa Barat

2 min read
0 comments
Konsumsi Rumah Tangga Menjadi Penopang Ekonomi Jawa Barat
Kepala Badan Statistik Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati saat menjelaskan data pertumbuhan ekonomi Jawa Barat kepada awak media, baru-baru ini. (Foto: Kliknusae.com/Adhi)

KLIKNUSAE.com – Ekonomi Provinsi Jawa Barat masih bergerak di atas rata-rata nasional pada awal 2026.

Badan Pusat Statistik Jawa Barat mencatat pertumbuhan ekonomi provinsi itu mencapai 5,79 persen pada triwulan I 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu.

Angka tersebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,61 persen.

Secara triwulanan, ekonomi Jawa Barat juga masih tumbuh 0,24 persen dibanding triwulan IV 2025.

Sementara itu,  Kepala Badan Pusat Statistik Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, mengatakan daya tahan konsumsi masyarakat menjadi salah satu penyangga utama.

Utamanya dalam  menggerakan pertumbuhan ekonomi daerah dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia itu.

“Pertumbuhan ekonomi Jabar ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Konsumsi rumah tangga dengan besarnya penduduk Jabar menjadi kekuatan untuk pertumbuhan ekonomi saat ini,” kata Margaretha dalam rilis statistik di kantor BPS Jawa Barat, Selasa, 5 Mei 2026.

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar dengan andil 1,65 persen.

Sektor transportasi menyusul dengan kontribusi 0,81 persen, lalu informasi dan komunikasi 0,58 persen, akomodasi dan makan minum 0,51 persen, serta perdagangan 0,45 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi motor utama dengan andil 3,27 persen.

Konsumsi pemerintah menyumbang 1,82 persen, diikuti pembentukan modal tetap bruto 1,06 persen.

Adapun konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga hanya memberi kontribusi tipis sebesar 0,04 persen.

Menurut Margaretha, stabilitas harga energi turut membantu menjaga laju ekonomi Jawa Barat.

Pemerintah pusat yang menahan kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi dinilai ikut menjaga konsumsi masyarakat.

Dimana di tengah memanasnya konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel menjadi sangat krusial terhadap pergerakan harga BBM.

“Perang Iran melawan Amerika-Israel berpengaruh, tetapi pemerintah berjuang untuk menumbuhkan ekonomi,” ujarnya.

Sedangkan perbaikan juga terlihat pada sektor ketenagakerjaan. Jumlah penduduk bekerja di Jawa Barat pada Februari 2026 mencapai 25,10 juta orang.

Bertambah sekitar 110 ribu orang dibanding Februari tahun sebelumnya.

Sektor perdagangan besar dan eceran masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan 5,47 juta pekerja atau sekitar 21,81 persen dari total tenaga kerja.

Tingkat pengangguran terbuka pun turun tipis dari 6,74 persen pada Februari 2025 menjadi 6,64 persen pada Februari 2026.

Persentase pekerja setengah pengangguran dan pekerja paruh waktu juga mengalami penurunan.

Selain industri dan perdagangan, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih dinilai memiliki daya tahan cukup kuat dalam menyerap tenaga kerja.

“Lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan masih berpotensi dalam mendorong perekonomian dan penyerapan tenaga kerja,” kata Margaretha. ***

Bagikan Artikel

Bantu sebarkan informasi bermanfaat ini.

Baca Juga Lainnya

`