Ini Baru Bos Tajir, Dalam Sehari Kekayaannya Bertambah Rp23 Triliun
KLIKNUSAE.com - Bayangkan bangun pagi dengan kabar bahwa kekayaan Anda bertambah US$ 1,4 miliar. Atau setara Rp 23 triliun dengan kurs rupiah Rp 16.961 hanya dalam hitungan jam.
Angka yang bagi kebanyakan orang terdengar seperti fiksi, tetapi menjadi kenyataan bagi Prajogo Pangestu.
Konglomerat asal Indonesia itu kini benar-benar berada di lapisan teratas kasta orang superkaya dunia.
Berdasarkan data Forbes Real Time Billionaires per Selasa, 20 Januari 2026, harta Prajogo Pangestu telah menembus US$ 36 miliar atau setara Rp 610,59 triliun.
Lonjakan tersebut mengantarkannya ke posisi orang terkaya nomor satu di Indonesia, sekaligus peringkat ke-60 orang paling kaya di dunia.
Dalam peta konglomerasi nasional, posisi Prajogo kini berdiri sendiri. Kekayaannya melampaui duo bersaudara Hartono yang selama bertahun-tahun bertengger di puncak daftar orang terkaya Indonesia.
Robert Budi Hartono kini tercatat memiliki kekayaan US$ 21,4 miliar. Disusul Michael Budi Hartono dengan US$ 20,6 miliar. Selisih yang menegaskan betapa cepat akselerasi kekayaannya Prajogo melesat.
Di balik lonjakan angka-angka itu, Prajogo tetap bergerak sunyi namun tegas di pasar modal.
Pertengahan Januari lalu, ia kembali menambah kepemilikan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Sementara itu berdasarkan laporan kepemilikan saham kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Prajogo membeli 1 juta lembar saham BREN pada 15 Januari 2026 melalui tujuh transaksi.
BACA JUGA: 10 Milineal Terkaya di Dunia, Ada yang Baru Berusia 18 Tahun Lho
Saham BREN
Harga pembelian bervariasi, dari Rp 9.525 hingga Rp 9.675 per saham.
Transaksi tersebut dilakukan untuk tujuan investasi pribadi. Dengan pembelian ini, kepemilikan saham Prajogo di BREN naik dari 139.789.700 lembar. A tau 0,104 persen menjadi 140.789.700 lembar (0,105 persen).
Persentasenya tampak kecil, tetapi nilainya berbicara besar, seperti hampir semua langkah bisnisnya.
Tak berhenti di sektor energi terbarukan, Prajogo juga menambah portofolio di PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Ia memborong 3.502.000 saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 6,55 miliar.
Lagi-lagi, langkah ini menegaskan keyakinannya pada sektor energi dan sumber daya sebagai mesin pertumbuhan jangka panjang.
Kisah Prajogo Pangestu sendiri bukan cerita instan. Ia memulai perjalanan bisnis dari sektor karet, sebelum terjun ke industri kayu pada akhir 1970-an.
Dari sana, ia membangun Barito Pacific Timber yang kemudian melantai di Bursa Efek Indonesia pada 1993. Perusahaan ini menjadi fondasi bagi kerajaan bisnisnya.
Perubahan besar terjadi pada 2007, ketika Barito Pacific bertransformasi. Bisnis kayu dikurangi, dan fokus diarahkan ke industri petrokimia lewat akuisisi 70 persen saham Chandra Asri.
Langkah ini terbukti strategis. Pada 2011, Chandra Asri semakin menguat setelah merger dengan Tri Polyta Indonesia.
Tentu saja, disertai masuknya perusahaan energi asal Thailand, Thaioil, yang mengakuisisi 15 persen saham.
Dari kayu ke petrokimia, lalu ke energi dan energi terbarukan, lintasan bisnis Prajogo Pangestu menunjukkan satu pola.
Membaca masa depan lebih cepat dari yang lain. Hari ini, ketika kekayaannya bisa melonjak puluhan triliun rupiah dalam sehari, ia tak sekadar menjadi simbol orang terkaya Indonesia.
Ia menjelma menjadi potret bagaimana keberanian bertransformasi dapat mengubah pengusaha lokal menjadi pemain global. ***
